Ini berlebihan, kadang juga terdengar aneh, terlebih dengan terlalu cepat menganggap sebuah petikan awal dalam gitar yang memulai satu lagu untuk satu cerita.
Untuk Poh yang selalu terdengar diam. Sebagian waktu adalah hal yang paling mengerti tentang sebuah rasa, bahkan terkesan cepat sekalipun.
Ada yang menggambarkan sepersekian detiknya selain antara kamu dan saya hadir. Yang mengundang belum tentu kita, mungkin saja alter ego masing-masing. Well, inilah yang sulit ditebak setiap orang.
Jangan bingung dengan tulisan ini. Singkatnya, ada di ujungnya.
Oke. Mungkin kamu bingung dengab cara ini. Lucu? Mungkin iya. Lebay? Biarin, wekk :p
But, sekali saya ingin membuat hal yang serius menjadi candaan begitupun sebaliknya tanpa harus dengan sungguh-sungguh bercanda karena ini serius.
Masih bingung? Masih garuk-garuk kepala? Okelah, di samping tulisan ini, setalah membaca, saya menuntun dari jauh. Maaf, bukan dengan cara berpandangan.
Kata-kata di atas jika diikat jadi satu dengan simpul bentuk hati jadinya seperti ini, “Maukah kamu menjadi seseorang yang lebih dari hubungan sekarang?”
-peGo-
Kepada siapa, hanya mereka yang (belum tentu bisa mendengarnya).
Dalam kata semoga, akan kubantai rindu-rindu yang terlalu memainkan perannya. Ini sudah tak asing bagiku, melainkan aku menikmati permainan yang pada akhirnya sulit diterka. Aku tak pernah menjadi bagian mereka yang hanya takut pada rindu saat ketika tak ditangannya.
Semoga, semoga yang terlalu kuat, terlebih menguatkan. Alasan kenapa aku masih bertahan di garis depan dengan memandang mereka di arah sampingnya.
Aku tak pernah berfikir bahwa cinta sempurna selalu menguatkan mereka yang mereka-mereka saja merasakan. Ketika aku hanya diam, melebihi apa yang harus aku perbincangkan dengan kesempurnaan. Terlebih dengan tanganmu yang (tak pernah) bisa menemani pandanganku, esok.
Bahwa hari esok tak menjanjikan apa-apa, Segalanya teraduk di dalamnya, seperti kotak undian. Di sudut ruang, bukan cahaya, keributan angin bersuara diam, demi itu aku masih tetap menyimpan kata “aku (masih) mencintaimu”. Hal yang (tak) terulang membunuhku kembali dengan cerita berbeda.
Sengaja aku tak menempatkan hari sekarang, yang kemudian lalu terlalu membahagiakan.
Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia. Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia, melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu. Itu menyakitkan, seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk, supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini…
Yang dulunya yang menjalani hubungan, adalah kerusakan di tubuhnya. Satu harapan liar yang tak punya ujung mengubah dan pergi dari garis bajingan. Jangan pernah berfikir untuk kembali menginjak pecahan beling sewaktu mengenal arah yang benar. Seperti sekarang.
Dengan sebuah perencanaan kemarin, begitu banyak yang benar-benar terjadi dibalik dari plan A -anggap saja begitu- kemudian plan b benar-benar terlihat. Mungkin ini ‘suatu hari nanti’ yang kita sebut dulu. Meski tidak pernah tergambarkan sekalipun.
Saya kadang berfikir tentang sebuah arti perjalanan hubungan rumit. Sebuah perasaan yang terbantai banyak faktor. Tidak dengan hubungan hati yang sama, tapi dengan hati yang terlalu hati-hati.
“Tidak ada yang pantas diceritakan, sekarang, di sini. Cerita itu kemudian hilang, lalu pergi, pendek. Lalu bagaimana dengan cerita sebelum ada cerita ini?” -cerita yang memang tidak pernah ada-